Inilah saatnya. Penantian yang sekian lama kini bakal berakhir. Matanya menjeling-jeling ke arah pasangannya, pasangannya membalas jelingan malu padanya. Dialah orangnya, insan yang berjanji akan bersama dalam susah dan senang, menerima segala buruk dan baik, sehidup semati bersama. Suatu anugerah dalam hidupnya.
Sesekali terdengar suara mengusik dengan tawa-tawa riang. Anak-anak kecil berlari-lari di beranda rumah tanpa peduli apa yang terjadi. Di ruang ini, Pak Imam masih galak menyampaikan khutbah nikah. Tapi itu pun tidak didengarnya. Dalam bunga-bunga hatinya terhimbau rasa risau. Rasa risau yang terhambat pada semua lelaki yang bakal menikah. Benar kata orang, dalam kehidupan seorang adam akan ada dua kali kegerunan maha besar melanda; sekali ketika bersunat dan kedua kalinya inilah dia.
Yang menggusarkan kata orang, bukan sekadar waktu berakad itu tetapi juga soalan-soalan sebelum nikah yang bakal ditanya. Bukan dia tidak beragama, tidak. Sembahyang jika pun tidak cukup janji yang lima, dikerjakannya juga sehabis mampu. Puasanya tidak pernah tinggal tanpa uzur yang membenarkan. Zakat juga dilunaskan Cuma haji saja belum rezeki lagi. Pendek kata, apa saja yang Islam cukup padanya.
“Sebelum bernikah ni saya kena tanya beberapa soalan.” Kata Pak Imam. Ahhhh!!! Inilah masanya. Dia mengangguk kelat, dalam kepalanya kosong tanpa dapat menangkap apa yang dibaca selama ini.
“Sebutkan apakah dia Rukun Iman?”
Dia tidak bungkam. Dia yakin tahu apa jawabnya dan dia sangat yakin. Tidak kurang 40 pasang mata tertumpu padanya waktu itu. Walaupun dengan getar, dia membuka jua mulutnya.
“Rukun Iman itu ada lima perkara....” Dia terhenti di situ, meneguk air liur.
“Pertama... Errr... Kepercayaan kepada Tuhan.”
Tiada ulasan:
Catat Ulasan