Khamis, 6 Ogos 2009

83 - Melankolia

Untuk Kita Renungkan

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tegaklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat..

Singkirkan debu yang masih melekat..

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya..

Adalah Dia di atas segalanya..

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah

Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista... oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang telah kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya

Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum... oh
Berubahlah agar Dia tersenyum

Lagu/Lirik/Penyanyi: Ebiet G. Ade

Kini saya tahu apakah perkara yang boleh membangkitkan kembali kebaikan-kebaikan kita kepada orang... Kamu perlu mati terlebih dahulu untuk dipuji....

Jika kamu masih ingat... saya pernah mengatakan dahulu bahwa memuji adalah perkara yang paling sukar untuk kita laksanakan... bukan saja memuji orang lain bahkan ada juga yang mengutuk-ngutuk diri sendiri sekiranya terjadi sesuatu kesilapan...

Arwahnya Mikaeel dan Kak Min menyedarkan saya bahawa seteruk mana manusia itu dikutuk ketika hayatnya cuma kebaikkannya (?) sahaja yang disebut orang selepas mati... Disebabkan saya kacak dan tidak mahu lari dari fitrah ini maka saya juga ingin memberitahu satu kebaikan Kak Min dalam berkarya sambil mendidik... Lagu di atas adalah contohnya...

Bukan seperti kamu! Ya! Kamu! Kamu yang sibuk membuka pekung mereka yang telah tiada.... Sibuk menceroboh masuk melihat jamban rumah orang lain dari membersih tahi di rumah kamu sendiri....

Tiada ulasan: